SEKOLAH LAPANG PEWARIS PERHUTANAN SOSIAL
Pada 11 Februari 2026, Sekolah Lapang Srimanganti menyelenggarakan kegiatan pembekalan Live In bagi peserta Sekolah Lapang yang akan terlibat langsung dalam pembelajaran lapangan di kelompok Perhutanan Sosial. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya nyata dalam menyiapkan regenerasi pemuda dan pemudi desa yang berkualitas, terampil, dan mampu mendokumentasikan praktik baik pengelolaan Perhutanan Sosial.
Pembekalan ini ditujukan untuk 3 kelompok Perhutanan Sosial, di antaranya:
- KTH Griya Bukit Jaya
- KTH Tambak Baya
- KTH Panyingkiran
Melalui kegiatan Live In, peserta akan melihat, menggali, dan menanyakan secara langsung praktik pengelolaan Perhutanan Sosial yang telah berjalan di lapangan. Adapun tujuan pembekalan ini adalah agar peserta:
- Memahami konsep dan alur penyusunan fotonovela sebagai media dokumentasi dan pembelajaran.
- Mampu mengambil gambar menggunakan kamera telepon genggam dengan teknik yang baik dan komunikatif.
- Mampu menulis deskripsi foto yang menjelaskan konteks, aktivitas, dan pesan yang ingin disampaikan.
- Mampu menyusun laporan fotonovela secara runtut dan informatif.
Sesi Pertama: Pengenalan Peserta dan Dasar Fotonovela

Kegiatan pembekalan dimulai pada pukul 09.30 WIB, dengan diikuti oleh 12 peserta Sekolah Lapang yang akan diberangkatkan mengikuti kegiatan Live In.
Tahap awal pembekalan diawali dengan perkenalan fasilitator dan peserta, disertai ice breaking singkat untuk mencairkan suasana kelas. Peserta diminta menuliskan nama dan hobi pada meta plan. Kegiatan ini mendorong partisipasi aktif dan membangun interaksi antar peserta.
Pada sesi pengenalan fotonovela, fasilitator menggali pengalaman peserta terkait fotografi dan kebiasaan mengambil foto. Diskusi diarahkan pada pemahaman bahwa foto merupakan media komunikasi yang menyampaikan pesan. Peserta diajak memahami bahwa foto yang baik harus jelas secara visual dan akan lebih mudah dipahami apabila disertai keterangan atau teks. kegiatan selanjutnya akan berfokus pada praktik pengambilan foto dan penulisan keterangan foto sebagai bekal peserta sebelum melaksanakan kegiatan Live In di kelompok Perhutanan Sosial.
Sesi Kedua: simulasi pembuatan fotonovela

Peserta secara bersama-sama belajar mengambil 3–5 foto yang saling berkaitan di sekitar kelas, kemudian menambahkan keterangan yang menjelaskan isi dan alur cerita dari foto tersebut. Hasil simulasi ini selanjutnya direviu bersama oleh fasilitator dan peserta, guna memperbaiki teknik pengambilan gambar serta ketepatan narasi.
Salah Satu Hasil Fotonovela Karya Peserta Sekolah Lapang


Dua pasang kupu-kupu sedang menghisap nektar pada sebuah bunga di pohon jambu. Peristiwa ini merupakan salah satu contoh proses simbiosis mutualisme, yaitu hubungan yang saling menguntungkan antara dua makhluk hidup.
- Kupu-kupu memperoleh nektar sebagai sumber makanan.
- 2. Bunga jambu terbantu dalam proses penyerbukan yang mendukung terjadinya perkawinan dan menghasilkan buah jambu.
“Saya senang sekali membaca narasi yang kalian buat. Ceritanya jelas, bahasanya runtut, dan pesan dari fotonya tersampaikan dengan baik”. Ucap Fasilitator
Sesi Ketiga: simulasi pembuatan fotonovela melalui wawancara warga sekitar
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan fotonovela melalui wawancara warga sekitar. Fasilitator menjelaskan bahwa pada sesi ini, objek dan cerita yang diangkat harus berfokus pada aktivitas dan kehidupan warga, sebagai bagian dari realitas sosial Perhutanan Sosial di tingkat tapak.
Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok, dan setiap kelompok diberikan tugas untuk:
- Mewawancarai warga sekitar.
- Mendokumentasikan aktivitas yang berbeda antar kelompok,
- Menyusun laporan fotonovela berdasarkan hasil observasi dan wawancara.
Wawancara Warga Sekitar


Sebagai penutup, seluruh kelompok mempresentasikan laporan fotonovela yang telah disusun. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran bersama sekaligus penguatan kapasitas peserta sebagai kader muda Perhutanan Sosial yang tidak hanya terlibat secara teknis, tetapi juga mampu mendokumentasikan dan menceritakan praktik baik di desanya.
