PROFIL TIM

Noer Fauzi Rahman

NOER FAUZI RACHMAN

Dr. Noer Fauzi Rachman, Phd., adalah seorang Psikolog, intelektual publik, aktivis agraria, dan akademisi Indonesia yang dikenal luas atas kontribusinya dalam studi politik agraria, ekologi politik, dan gerakan sosial pedesaan. Ia meraih gelar doktor dalam bidang Ilmu Lingkungan, Kebijakan, dan Manajemen dari University of California, Berkeley pada tahun 2011. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif Sajogyo Institute (2012-2015). Hal ini tidak terlepas dari pengalamannya sebagai pendiri dan Ketua Badan Pelaksana Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) tahun 1995-2002, fasilitator, peneliti, penulis, dan trainer pada Perkumpulan Lingkar Belajar untuk Pembaruan Agraria dan Desa (KARSA),

Aktif berperan sebagai anggota Dewan Pendidikan dan Pengembangan INSIST, dan aktif di Perkumpulan untuk Pembaruan Hukum dan Masyarakat (HuMa).Ia pernah dipercaya sebagai Staf Khusus di Kantor Staf Presiden pada era Moeldoko. Saat ini aktif sebagai Dosen Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran dan dipercaya sebagai anggota Dewan Pengawas Independen Perum Perhutani.

RETNO HANGGRAINI NININ

Dr. Retno Hanggarani Ninin, M.Psi., Adalah seorang psikolog komunitas yang secara konsisten mengembangkan pendekatan psikologi yang berpusat pada komunitas, berakar pada konteks sosial, budaya, dan ekologi. Ia menyelesaikan pendidikan doktoral psikologi dengan fokus pada psikologi komunitas dan kesehatan kolektif, dan aktif sebagai dosen dan peneliti di Universitas Padjadjaran. Sebagai seorang akademisi dan praktisi, Dr. Ninin dikenal dengan pendekatan kolaboratif dan partisipatifnya dalam membantu komunitas. Ia percaya bahwa kesehatan mental tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan, hubungan sosial, dan struktur ketidakadilan yang melingkupi kehidupan sehari-hari.

Ia telah banyak terlibat dalam penelitian dan intervensi psikososial di komunitas yang terkena bencana, perempuan korban kekerasan, masyarakat adat, dan kelompok petani dan nelayan. Pendekatannya menekankan pentingnya pemulihan berbasis komunitas, kehadiran psikolog sebagai fasilitator, bukan “penyembuh tunggal,” dan integrasi psikologi, praktik budaya lokal, dan keadilan sosial.

Dr. Ninin juga aktif mengembangkan model pelatihan bagi fasilitator masyarakat dan mahasiswa psikologi, dengan semangat membumikan psikologi agar relevan, membebaskan, dan berpihak pada kaum tertindas.

Retno Hanggarani Ninin
ELIZABETH ANITA WIDJAJA

ELIZABETH ANITA WIDJAJA

Prof. Dr. Elizabeth Anita Widjaja adalah ilmuwan bambu terkemuka Indonesia yang telah mengabdikan hidupnya untuk penelitian, konservasi, dan pemanfaatan bambu sebagai bagian penting dari solusi ekologis dan sosial. Lahir di Kudus dan belajar Biologi di Universitas Padjadjaran, ia kemudian menjadi peneliti senior di Herbarium Bogoriense, Divisi Botani LIPI (sekarang BRIN), dan dikenal luas atas keahliannya dalam taksonomi bambu.

Selama lebih dari 40 tahun berkarir, Prof. Elizabeth telah mengidentifikasi lebih dari 160 spesies bambu Indonesia, dengan sekitar 80–100 di antaranya merupakan temuannya sendiri. Beberapa spesies bahkan menyandang namanya, seperti Gigantochloa atroviolacea Widjaja dan Gigantochloa pseudoarundinaceae (Steud) Widjaja. Ia juga menemukan Bambusa jokowii, spesies bambu baru dari Flores yang diberi nama untuk menghormati Presiden Joko Widodo.

Dedikasi dan kontribusinya telah membuahkan berbagai penghargaan nasional dan internasional, termasuk Bintang Jasa Utama, Satyalancana Karya, Medali Harsberger dari Society of Ethnobotanists India, dan Penghargaan Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia.

SITI MAIMUNAH

PROFIL SITI MAIMUNAH

Siti Maimunah
Yohanes Krisnawan

YOHANES KRISNAWAN

PROFIL YOHANES KRISNAWAN

BUSTHOMI AFIF

Sejak menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi pendidikan, Busthomi Afif telah tertarik pada pendekatan pendidikan kritis alternatif yang berakar pada pengetahuan dan kearifan lokal. Ketertarikan ini bukan sekadar teori, melainkan ia wujudkan dalam praktik saat menjabat sebagai Ketua Program Magang di Yayasan Wangsakerta pada 2022–2023, pengalaman yang memperkuat kemampuan reflektif dan organisasionalnya dalam konteks pendidikan masyarakat.

Kini, di usia 27 tahun, Busthomi menjalani tantangan baru melalui Sekolah Lapangan Bambu bagi Petani Perhutanan Sosial Muda. Bagi dirinya, ini bukan sekadar program pendampingan, melainkan perwujudan komitmen jangka panjang untuk membangun ruang belajar kolektif yang merawat relasi antara manusia, pengetahuan, dan alam.

Busthomi Afif
Dede Ahmad Sopinah

DEDE AHMAD SOFINAH

Dede Ahmad Sofinah lahir 21 tahun lalu di sebuah desa di perbukitan Gunung Cikurai, Garut—lingkungan yang membentuk cara pandangnya sejak dini melalui interaksi dengan ekologi gunung berapi, hutan, sungai, dan tanah vulkanik. Kehidupan yang dekat dengan alam menjadikannya peka terhadap relasi antara manusia dan lingkungan tempatnya tumbuh.

Kini sebagai mahasiswa teknologi industri pertanian, Dede sangat tertarik mengembangkan sumber daya lokal milik bersama serta mendorong praktik penggunaan tanah dan air yang berkelanjutan untuk pertanian. Baginya, masa depan pertanian bergantung pada keberanian untuk merawat bumi, bukan sekadar mengeksploitasinya.

HASLINDA QODARIAH

Perempuan paruh baya ini bergiat dalam barisan gerakan sosial sejak masih duduk di bangku kuliah, mengurus penerbitan berkala maupun buku dan database sengketa agraria untuk KPA (Konsorsium Pembaruan Agraria). Haslinda Qodariah juga membantu beberapa penelitian, terutama mengenai pendudukan tanah yang dilakukan oleh para buruh tani dan petani tak bertanah di Jawa Barat. Aktivitasnya membuatnya banyak berhubungan dengan organisasi petani di Jawa Barat, terutama SPP (Serikat Petani Pasundan), sampai kemudian ikut serta dalam merintis dan mengembangkan lembaga pendidikan formal untuk organisasi ini.

Setelah berdirinya sekolah-sekolah menengah gratis untuk anak-anak petani yang tergabung dalam SPP, sejak 2008, perempuan yang akrab dipanggil Linlin atau Linda ini, memutuskan untuk mengabdikan diri menjadi guru di salah satu sekolah yang didirikan SPP, SMP Pasawahan, yang pada gilirannya turut mendirikan SMK Pasawahan di Desa Pasawahan, Kecamatan Banjaranyar, Kabupaten Ciamis. Setelah lebih dari 15 tahun bergiat menjadi guru di sana, kemudian satu tahun bekerja menjadi asisten staff khusus Kepala Staf Presiden, memutuskan untuk rehat selama beberapa waktu. Barulah pada pertengahan 2025 memutuskan untuk bergabung bersama kawan-kawan pengurus Studio Psikologi Komunitas pengelola Pondok Cikedokan.

HASLINDA QODARIAH
Ignasia Bening Sesanti

IGNASIA BENING SESANTI

Ignasia Bening Sesanti lahir 25 tahun lalu di Jakarta, pusat hiruk-pikuk dan keragaman Indonesia. Sejak kecil, ia aktif dalam kegiatan Pramuka, yang menumbuhkan kecintaannya pada alam dan kerja sama. Ketertarikannya pada bahasa dan ekspresi membawanya menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang Sastra Indonesia, sebuah fondasi yang memperkuat kemampuannya dalam memahami dan merawat narasi-narasi budaya.

Selain sastra dan seni, Ignasia juga menaruh minat besar pada alam, hewan, teknologi berkelanjutan, serta pengetahuan dan budaya lokal. Ia melihat kekayaan lokal bukan sebagai peninggalan masa lalu semata, tetapi sebagai sumber inspirasi dan solusi masa depan yang layak dirawat dan dikembangkan.

AGUS ROHMAT

PROFIL AGUS ROHMAT

Agus Rohmat Cikedokan
Translate »