Perusakan ruang hidup membuat beban kerja ganda perempuan semakin berat, kehilangan mata pencarian, kesulitan air bersih, dan biaya hidup bertambah mahal.
Oleh Siti Maimunah
Bersatu melawan kekerasan atas tubuh merupakan salah satu tema peringatan Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2026. Tema yang lekat dengan realitas kehidupan di sekitar proyek-proyek ekstraktivisme, seperti pertambangan, penebangan hutan, dan perkebunan skala besar. Di sana, tak hanya alam yang dirusak, tubuh perempuan juga. Pasalnya, ekstraktivisme membutuhkan kekerasan dan mensyaratkan zona-zona pengorbanan.
Ekstraktivisme industri transisi energi
Krisis iklim dan transisi energi mendorong ekspansi ekstraktivisme ke timur Indonesia, wilayah-wilayah yang kaya nikel, seperti Pulau Sulawesi, Raja Ampat, Gag, Halmahera, dan Obi.
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Maluku Utara (2022) menyebut sekitar 72.775 hektar tambang nikel berada di kawasan hutan. Di Kabupaten Halmahera Tengah, izin usaha pertambangan yang mencakup sekitar 60 persen wilayah atau 142.965 hektar telah mengubah ruang hidup masyarakat adat. Baik suku O’Hongana Manyawa yang tinggal di hutan maupun suku Maba dan Sawai di pesisir. Hutan yang dulunya tempat tinggal, berburu, dan mendapatkan sumber pangan utama, kini makin sulit diakses. Akibat alih fungsi hutan menjadi ladang rente korporasi.
Komodifikasi hutan untuk nikel membuat degradasi besar-besaran terhadap cara hidup nomaden O’Hongana Manyawa, yang dulunya makan sagu dan umbi-umbian kini bergantung pada beras bantuan. Ini bukan tanpa sengaja. Mereka dibuat bergantung kepada perusahaan tambang sehingga menjauh dari hutannya.
Di sekitar industri nikel, kekerasan terhadap perempuan memiliki wajah berlapis. Perusakan ruang hidup membuat beban kerja ganda perempuan semakin berat, kehilangan mata pencarian, kesulitan air bersih, dan biaya hidup bertambah mahal. Wilayah mencari kerang hilang, sementara habitat daun pandan hutan, bahan dasar anyaman tikar buro-buro, menyusut drastis.
Kekerasan juga dalam bentuk gangguan kesehatan. Data di Puskesmas Lelilef di Weda Tengah menunjukkan penderita ISPA naik 24 kali lipat dari 434 kasus (2020) menjadi 10.579 kasus pada 2023. Di desa tetangganya, Desa Sagea, Weda Utara, pada 2019 penderita ISPA tercatat 282 kasus yang meningkat hingga 1.051 kasus pada 2023. Di kompleks industri nikel di Sulawesi Tengah kondisinya serupa.
“Dulu kami cuci piring setelah makan, sekarang cuci piring dulu sebelum makan, peralatan dapur hitam karena debu batubara,” ujar seorang ibu yang rumahnya berjarak tak sampai satu kilometer dari kompleks industri nikel Morowali.
Demi keamanan, perempuan memilih membeli air galon untuk minum, memasang pagar untuk menghindari kasus pencurian, dan mendesak desa membatasi izin atas menjamurnya praktik prostitusi berkedok spa-spa. Morowali menjadi salah satu dari tiga kabupaten dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Sulawesi Tengah.
Ekstraktivisme dan zona pengorbanan
Istilah ekstraktivisme berlaku bagi industri lainnya yang rakus lahan, air, energi, dan ditopang buruh murah. Ekstraktivisme menggambarkan rerantai yang menghubungkan proses produksi ke konsumsi. Seperti kompleks industri nikel yang menghubungkan penambangan, pengangkutan, pengolahan (smelter), hingga konsumsi, yang menghasilkan limbah dalam jumlah masif. Proses tersebut menuntut “zona-zona pengorbanan” sosial ekologis.
Ekstraktivisme membongkar gunung, hutan, sumber-sumber air, sehingga mengganggu sistem ekologis yang kompleks, termasuk siklus air dan biokimia yang selama ini menopang kesehatan lingkungan setempat. Kesehatan sosial juga terganggu bersamaan dengan putusnya hubungan sosial, budaya, dan kosmologi masyarakat dengan alam dan leluhur. Seperti yang dialami suku Amungme di sekitar tambang PT Freeport Papua, ataupun suku Sawai dan O’Hongana Manyawa di sekitar industri nikel Halmahera.
Perempuan juga disingkirkan dari sumber penghidupannya dan bergantung pada laki-laki di sektor tambang. Bersamaan, mereka menghadapi turunnya kualitas lingkungan, meningkatnya risiko kesehatan dan keamanan, naiknya biaya hidup, ketimpangan sosial, dan beban kerja berlipat.
Namun, sebenarnya, industri nikel tak hanya mengeksploitasi Halmahera dan Morowali karena peleburan nikel membutuhkan batubara untuk energi dari tambang-tambang di Pulau Kalimantan, dolomit (kapur) dari tambang-tambang di Pulau Jawa, dan asam sulfat dari berbagai kawasan industri di Indonesia.
Zona-zona pengorbanan ekstraktivisme menggambarkan bagaimana jejaring ruang hidup di negara kepulauan Indonesia sedang dirusak secara bersamaan.
Tubuh sebagai arena perlawanan
Melihat ekstraktivisme sebagai rerantai produksi-konsumsi yang dikuasai oligarki, membuka keterhubungan kita sebagai warga negara dan konsumen dengan zona-zona pengorbanan.
Kita mengonsumsi listrik PLN yang bergantung pada batubara. Makan nasi yang tumbuh padinya bergantung pada pupuk kimia dan pestisida berbasis energi fosil, sementara pakaian, berbagai produk sanitasi, dan kosmetik berbahan turunan minyak bumi dan kelapa sawit.
Secara etika, kita memiliki tanggung jawab untuk secara kolektif melawan peluasan wilayah yang dikorbankan. Kesadaran ini menempatkan tubuh kita sebagai arena pertama perlawanan, di mana pun kita tinggal.
Seperti alam, tubuh manusia juga menjadi bagian dari sistem yang dieksploitasi kapitalisme untuk terus didorong mengonsumsi, membeli barang-barang. Namun, keputusan ada di tangan kita untuk mengurangi atau memilih pola konsumsi yang aman bagi tubuh dan adil bagi orang dan makhluk hidup lain.
Konsumsi yang aman dan adil menjadi jalan memulihkan hubungan tubuh dengan alam. Sebab, alam juga berada dalam tubuh manusia melalui mikrobioma, yaitu triliunan bakteri, virus, dan jamur yang hidup di sistem pencernaan dan pernapasan. Mereka bekerja secara simbiotis menjaga kekebalan tubuh, pencernaan, produksi vitamin, dan perlindungan dari patogen. Artinya, memulihkan hubungan dengan alam juga berarti merawat tubuh kita. Tubuh yang sehat memungkinkan kita terus bertahan dan berjuang secara kolektif.
Belilah bahan panganmu dari pasar tradisional atau jaringan petani dan nelayan dibandingkan minimarket, supermarket, atau hipermarket yang dikuasai segelintir konglomerat. Ini akan membuka pintu bagi perjuangan kolektif bersama petani, nelayan, buruh, dan komunitas yang mengusung keadilan sosial ekologis.
Arena berikutnya adalah perjuangan kolektif. Rerantai produksi-konsumsi bisa kita transformasi sebagai arena politik sehari-hari untuk menyelamatkan ruang hidup bersama. Pertimbangkan menggeser investasimu kepada usaha kecil kolektif dan aman, serta mendukung kebijakan yang prorakyat dan lingkungan.
Lebih jauh, mari berinvestasi sosial membangun blok politik baru agar politik elektoral tiga tahun ke depan lebih bersih, prorakyat, dan lingkungan.
Selamat merayakan Hari Perempuan Sedunia. Mari melawan penghancuran atas tubuh.
Penulis: Siti Maimunah, Direktur Mama Aleta Fund (MAF)
Artikel ini bersumber dari Kompas.id, diterbitkan pada 10 Maret 2026. Dapat dibaca selengkapnya di https://www.kompas.id/artikel/ekstrativisme-dan-kekerasan-terhadap-perempuan?utm_source=link&utm_medium=shared&utm_campaign=tpd_-_android_traffic
