Sinergi Lintas Lembaga untuk Pengembangan Perhutanan Sosial
Pada hari Minggu, 20 Juli 2025, Pondok Cikedokan kedatangan tamu dari The Samdhana Institute, Kail Bandung, dan Yayasan Tanah Air Semesta. Dalam pertemuan ini diadakan tiga kegiatan utama. Kegiatan pertama, yaitu sharing mengenai usaha produksi, pengolahan, dan pemasaran kopi. Kegiatan kedua, yakni mengunjungi kebun kopi di Gunung Mandalawangi. Sementara itu, kegiatan ketiga adalah presentasi laporan asesmen lapangan dan pemaparan rancangan Sekolah Pewaris Perhutanan Sosial (SPPS). Sesi sharing berlangsung di Rumah Keong Pondok Cikedokan, sedangkan presentasi laporan dan pemaparan rancangan SPPS dilakukan di Perpustakaan Pondok Cikedokan.
Kegiatan ini dimulai pukul 10.00 WIB dan selesai pukul 20.00 WIB. Adapun jumlah kehadiran pada kegiatan ini yaitu sebanyak 20 orang. Tamu yang hadir di antaranya, yaitu Direktur The Samdhana Institute Cristi Nozawa dari Filipina, anggota board Dinny Jusuf dari Torajamelo, officer di kantor The Samdhana Institute Sandika, Any Sulistyowati dari Kail Bandung, Ani Hanipah, Siti Maryam dan Eka Yudha Garmana dari Yayasan Tanah Air Semesta, dan Iwan Somantri dari Patrol, Desa Dano di Garut.

Belajar dari Praktik Nyata: Pengolahan Kopi di Wilayah Perhutanan Sosial
Kegiatan pertemuan ini diadakan dengan tujuan mendiskusikan perencanaan dan persiapan pembukaan Sekolah Pewaris Perhutanan Sosial. Fokus materi dalam kurikulum yang akan diajarkan yakni tentang praktik pertanian kopi berkelanjutan berbasis teknik yang ramah lingkungan. Hal ini menjadi pembahasan dalam sesi sharing dengan pembicara Iwan Somantri yang menceritakan pengalamannya mengelola pertanian kopi di lahan perhutanan sosial dan bersama keluarganya telah menghasilkan produk yang dilabeli dengan nama Kopi Abah Asep Kompan. Dalam penjelasannya, Iwan menyampaikan, saat ini juga keluarganya membuka sebuah warung kopi yang didirikan di depan rumahnya. Warung kopi itu sengaja ia buka untuk para petani dan warga setempat, juga untuk pendatang yang ingin menikmati ciri khas kopi arabika dari Patrol, Desa Dano, Garut. Pembicara lainnya dalam sesi sharing ini yaitu Redi Purnawan asal Pangandaran. Redi membagikan pengalaman dirinya mengelola bisnis pertanian di PT. Tani Pangandaran Maju Sarerea yang mulai dirintis tahun 2018. Hingga saat ini, hasil kopinya mengalami perkembangan dan sudah diekspor ke luar negeri, yaitu Jepang. Selain kegiatan ekspor, ia juga menjalin kerja sama dengan perusahaan kafe di Jepang. Redi mengatakan, dalam waktu dekat ia akan memperluas jaringan bisnisnya dengan melakukan ekspor kopi ke Turki.
Jalan Sore dan Forest Bathing: Mengenal Lebih Dekat Ekosistem Perhutanan Sosial
Di sela kegiatan sesi sharing dan presentasi, sore harinya, dilakukan kegiatan Jalan Sore. Jalan Sore ini bukan kegiatan olahraga biasa seperti pada umumnya, namun sekaligus healing dengan melakukan forest bathing. Sambil menanti sunset, delapan orang, yaitu empat peserta dan empat panitia bersama-sama mengunjungi kebun kopi yang ada di Gunung Mandalawangi. Kegiatan yang dilakukan adalah berjalan mendaki melewati rumah-rumah pemukiman warga di Desa Rancasalak, lalu setelah sampai di kebun kopi, memetik dan panen kopi, merasakan buah kopi langsung di kebun, lalu kembali ke Pondok Cikedokan. Di perjalanan berangkat dan pulang, terlihat pemandangan lanskap pegunungan yang ada di sekitar Gunung Mandalawangi, Garut. Pengalaman menyentuh pohon, bunga dan berada di tengah-tengah alam membuat kami yang pergi kesana merasa gembira.

Laporan Asesmen Lapangan dan Rancangan Sekolah Pewaris Perhutanan Sosial
Menjelang makan malam, dilanjutkan dengan kegiatan presentasi laporan asesmen yang satu minggu lalu telah dilakukan oleh tim Pondok Cikedokan di daerah Gunung Cikuray, Cilawu, Kabupaten Garut. Setelah itu, presentasi kedua yaitu pemaparan rancangan Sekolah Pewaris Perhutanan Sosial yang direncanakan sebagian kegiatan pembelajarannya akan berlokasi di wilayah perhutanan sosial yang dikelola oleh LPHD Berkah Tani, di Desa Sukamurni, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Selama presentasi tim mendapatkan tanggapan dan masukan untuk perbaikan laporan. Selesai presentasi, acara ditutup dengan makan bersama dan istirahat malam.
Semoga hasil dari rangkaian kegiatan ini dapat memberikan pegetahuan dan bisa membuat persiapan rancangan Sekolah Pewaris Perhutanan Sosial menjadi produktif ke depannya.

