Hari menunjukkan waktu petang. Pukul 16.30 WIB kala itu di Pondok Cikedokan langit nampak cerah, namun hembusan angin terasa semakin sejuk menerpa kulit. Tidak disangka, dua perempuan datang menggunakan sebuah sepeda motor. Mereka kemudian berkeliling melihat kebun dan bangunan yang ada di Pondok Cikedokan. Setelah berjalan-jalan mengamati dan menikmati pemandangan, mereka bertemu dengan Bening, Rina, dan Busthomi. Kunjungan sore itu membuat suasana menjadi ramai dan menyenangkan.

Setelah berkenalan, rupanya dua orang perempuan itu berasal dari Garut. Salah satu dari mereka adalah officer di Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) yang memiliki kantor pusat di Denpasar, Bali. Perempuan itu bernama Isti Laras. Teh Isti datang mengajak saudaranya yang tinggal di daerah Kadungora untuk berkunjung bersama ke Pondok Cikedokan. Posisi Kecamatan Kadungora memang berdekatan dengan Kecamatan Leles, lokasi kecamatan Pondok Cikedokan sehingga tidak jauh dari rumah saudaranya.
Sebelum pulang, Teh Isti diantar oleh Busthomi untuk melihat kebun yang ditanami koleksi bibit bambu. Letak kebun ini yaitu di sebelah Rumah Keong Pondok Cikedokan. Sementara itu, koleksi bibit bambu berasal dari Bogor, dibawa dari tempat Prof. Elizabeth A. Widjaja, seorang guru besar taksonomi bambu utama di Indonesia dan penasihat Yayasan Bambu Lingkungan Lestari. Teh Isti lalu menuturkan sedikit tentang dirinya jika ia juga kenal dengan Prof. Eli. Tak hanya itu, ia pun dibimbing dan kerap mengikuti kegiatan Prof. Eli di Bali, salah satu kegiatannya yaitu untuk melakukan berbagai riset tentang bambu.

Beruntungnya, dalam perbincangan sewaktu ke kebun itu, Teh Isti yang juga merupakan seorang lulusan Biologi empat tahun lalu ini membagikan pemahaman kepada Busthomi tentang bambu yang tumbuh di area kebun Pondok Cikedokan. Dari pengamatan di antara bambu yang tumbuh, diketahui ada jenis bambu yang tidak merumpun, jadi rebungnya bisa menyebar ke titik lain. Selanjutnya, Teh Isti mengecek kondisi tanah di Cikedokan. Ia mengatakan, jenis tanah di Cikedokan cocok untuk ditanami bambu. Ia pun memberikan saran dan pesan bahwa perlu ada jarak tanam antara bambu yang satu dengan bambu lainnya supaya tiap bambu mendapatkan nutrisi yang cukup. Satu bedengan (lahan tanam yang sudah diolah dan dibuat dengan cara meninggikan tanah) sebaiknya ditanam satu jenis bambu dan diberi papan nama.
Selesai dari kebun, Busthomi, Bening, Teh Isti dan saudaranya melanjutkan obrolan sembari meminum air putih dan secangkir teh. Lalu, Teh Isti dan saudaranya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Kunjungan yang berlangsung sekitar satu jam itu tampaknya memberi keceriaan, terlihat dari senyuman hangat dari wajah masing-masing.
