Pondok Cikedokan: Tuan Rumah Kegiatan Kunjungan Kerja Menteri Kehutanan

Pada hari ini, Sabtu, 10 Mei 2025, Pondok Cikedokan menjadi pusat perhatian dengan adanya kunjungan Menteri Kehutanan RI untuk meninjau pengolahan kopi agroforestri oleh Kelompok Perhutanan Sosial Mitra Paguyuban Sunda Hejo. Kunjungan ini menjadi langkah strategis untuk memperlihatkan kontribusi masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan melalui praktik agroforestri yang berkelanjutan.

Pengolahan kopi agroforestri ini telah menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat dapat mengembangkan potensi ekonomi lokal sembari tetap menjaga ekosistem hutan. Sistem agroforestri ini mengintegrasikan tanaman kopi dengan tanaman pelindung lainnya, seperti bambu dan pohon endemik, untuk menjaga keseimbangan ekologi sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. Menteri Kehutanan secara langsung melihat proses pengolahan kopi, mulai dari pemetikan buah kopi, pengolahan pascapanen, hingga pengemasan produk kopi siap jual.

Agenda Kegiatan Kunjungan Menteri Kehutanan di Pondok Cikedokan

Drs. Noer Fauzi Rachman, Ph.D. (pengasuh Pondok Cikedokan), Raja Juli Antoni, MA., Ph.D. (Menteri Kehutanan), Dr. Ir. Mahfudz, M.P. (Sekjen Kementerian Kehutanan dan Pj. Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan), Ir. Dyah Murtiningsih (Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan), dan Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko (Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem)

Selain peninjauan langsung, rangkaian kegiatan kunjungan ini juga mencakup dua agenda utama, yaitu:

Diskusi Terfokus: Sekolah Lapang Reforestasi dan Perhutanan Sosial

Menteri Kehutanan bersama Dirjen PSKL, Direktur Pondok Cikedokan, Paguyuban Tani Sunda Hejo, para pemegang SK Perhutanan Sosial, serta perwakilan pewaris perhutanan sosial. Diskusi ini berfokus pada strategi pengembangan produk kopi agroforestri, peluang pemasaran, serta penguatan kelembagaan perhutanan sosial di Kabupaten Garut.

Siswa Sekolah Lapang Perhutanan Sosial berkesempatan untuk menjelaskan berbagai kegiatan pembelajaran yang telah mereka lakukan, mulai dari praktik agroforestri, pengelolaan bibit tanaman hutan, hingga teknik pemasaran produk hasil hutan bukan kayu. Menteri Kehutanan mendengarkan langsung aspirasi dan pengalaman siswa, serta memberikan motivasi agar program sekolah lapang ini dapat terus berkembang dan mencetak generasi penggerak konservasi hutan.

Wawancara Eksklusif

a. Wawancara bersama Kementerian Kehutanan:

Wawancara Bening bersama Menteri Kehutanan:
Kesan Menteri Kehutanan Setelah Mendengar dan Mengikuti Diskusi Bersama Para Petani Pengelola Perhutanan Sosial

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, MA., Ph.D. melakukan kunjungan dalam rangka peninjauan pengolahan kopi agroforestri oleh Kelompok Perhutanan Sosial yang menjadi mitra Paguyuban Tani Sunda Hejo di Desa Rancasalak, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Sabtu (10/5/2025).

Raja Antoni menyampaikan kesannya setelah mendengar dan mengikuti diskusi bersama para petani pengelola Perhutanan Sosial. “Pertama, saya sebagai Menteri Kehutanan bertemu dengan para petani, terutama petani muda, sangat optimis ya bahwa masa depan agroforestri terutama untuk kopi sangat baik sekali. Terutama dengan tadi menghubungkan antara pasar dunia yang memang menuju ke arah pertanian yang regeneratif ya tinggal ini memang mengomunikasikan, menghubungkan antara demand dengan aspek sudah dikerjakan dengan baik oleh para petani,” ujar Raja Antoni.

b. Wawancara bersama Dirjen PSKL:

Wawancara Bening bersama Dirjen KSDAE: Tantangan dan Solusi untuk Perhutanan Sosial

Dalam kunjungan Menteri Kehutanan ke Pondok Cikedokan, Bening berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Dirjen PSKL. Pada kesempatan tersebut, sejumlah isu penting terkait pengelolaan perhutanan sosial diangkat, termasuk maraknya bandar liar dan minimnya pendampingan bagi petani.

Tantangan Bandar Liar di Lapangan: Bagaimana Mengatasinya?
Bening mengawali wawancara dengan menyoroti permasalahan di lapangan terkait keberadaan bandar-bandar liar yang sering kali merugikan petani. Menanggapi hal tersebut, Dirjen PSKL menegaskan bahwa ada tiga aspek penting yang harus diperkuat untuk mengatasi masalah tersebut:

  1. Optimalisasi Pemasaran: Membangun akses pasar yang lebih luas agar produk kopi agroforestri dapat bersaing dengan produk lainnya.
  2. Menguatkan Petani di Hulu: Meningkatkan kapasitas petani melalui pendampingan intensif dan pelatihan keterampilan teknis
  3. Penguatan Pasca Panen: Memperbaiki sistem pengolahan hasil panen agar lebih berkualitas dan memiliki nilai tambah. “Ini harus dibangun bersama-sama oleh kelompok tani, pemerintah, dan stakeholder lainnya,” ujar Dirjen PSKL.

Minimnya Pendampingan dan Sosialisasi: Apa Solusi dari Kementerian?
Bening kemudian menanyakan tentang ketimpangan pendampinga di sejumlah KTH (Kelompok Tani Hutan) dan minimnya sosialisasi terkait program perhutanan sosial. Dirjen PSKL mengakui bahwa hal ini menjadi tantangan yang harus segera diatasi.

“Saat ini, kami mulai menata pendamping,” tegasnya.

  1. Pendataan Pendamping: Langkah awal yang dilakukan adalah melakukan pendataan agar distribusi pendamping lebih merata dan efektif.
  2. Penguatan SDM Pendamping: Kementerian akan menguatkan kapasitas SDM pendamping agar dapat memberikan bimbingan yang lebih optimal kepada petani.
  3. Sistem Informasi Terpadu: Pengembangan sistem informasi agar masyarakat dapat lebih mudah mengakses informasi terkait pendampingan, permodalan, dan pemasaran produk perhutanan sosial. “Tahapan ini akan segera dilakukan, sehingga masyarakat benar-benar mendapatkan pendampingan yang tepat sesuai kebutuhan mereka,” tambahnya.

Pesan dan Harapan Dirjen PSKL: Mencetak Kader Penerus Perhutanan Sosial
Menutup wawancara, Bening meminta pesan dan kesan dari Dirjen PSKL terkait peran Pondok Cikedokan sebagai pusat pendidikan perhutanan sosial. Dengan penuh antusias, Dirjen PSKL menyampaikan apresiasinya terhadap program Sekolah Lapang Perhutanan Sosial yang ada di Pondok Cikedokan

“Ini hal yang sangat luar biasa,” ungkapnya.
Menurutnya, program ini tidak hanya mencetak petani kopi yang unggul, tetapi juga kader-kader penerus perhutanan sosial. Ia mengingatkan bahwa mayoritas pemegang SK perhutanan sosial saat ini rata-rata sudah berusia lanjut.

“Kita butuh generasi muda yang siap melanjutkan perjuangan ini,” tegasnya.

Dirjen PSKL berharap agar program pendidikan seperti Sekolah Lapang dapat terus berkembang dan mencetak generasi penerus yang siap menjaga dan mengelola hutan selama masa SK yang berlaku 35 tahun. Dengan demikian, keberlanjutan ekonomi berbasis perhutanan sosial tidak hanya berdampak pada keluarga petani, tetapi juga berkontribusi pada ekonomi daerah hingga tingkat nasional.

Kunjungan Lapangan

Menteri Kehutanan dan rombongan melakukan kunjungan ke beberapa wilayah pengelolaan hutan/perhutanan sosial. Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Mandalagiri, yang dikenal sebagai kawasan hutan konservasi berbasis masyarakat. Di Mandalagiri, rombongan melihat langsung praktik agroforestri berbasis kopi dan rempah serta upaya konservasi hutan bambu.

LOKASI PERHUTANAN MANDALAGIRI
LOKASI PERHUTANAN SOSIAL MANDALAGIRI

Daftar Undangan Kunjungan Menteri Kehutanan ke Pondok Cikedokan

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pihak terkait, di antaranya:

  1. Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat
  2. Cabang Dinas Kehutanan Wilayah V Kabupaten Garut
  3. Perum Perhutani KPH Garut
  4. Kapolsek Kecamatan Kadungora
  5. Camat Kadungora
  6. Pengurus Paguyuban Sunda Hejo
  7. Kepala Desa Rancasalak, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut
  8. LMDH Mandala Giri, Desa Rancasalak, Kecamatan Kadungora
  9. KTH Sinar Mandalawangi, Desa Mandalasari, Kecamatan Kadungora
  10. LMDH Mekar Harum, Desa Lembang, Kecamatan Leles
  11. LMDH Panyingkiran, Desa Cipancar, Kecamatan Leles
  12. KTH Tambak Baya, Desa Dano, Kecamatan Leles
  13. LMDH Wangun Lestari, Desa Haruman, Kecamatan Leles
  14. KTH Griya Bukit Jaya, Desa Sirnajaya, Kecamatan Cisurupan
  15. Siswa Sekolah Lapang Perhutanan Sosial

Dialog dan Aspirasi Masyarakat Perhutanan Sosial di Garut

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kehutanan juga berdialog dengan anggota kelompok perhutanan sosial, mendengarkan aspirasi mereka terkait pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Beberapa isu penting yang dibahas antara lain akses permodalan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pemasaran produk kopi agroforestri agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Harapan dan Rencana Ke Depan untuk Kopi Agroforestri Berbasis Perhutanan Sosial

Dengan adanya kunjungan ini, diharapkan tercipta kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, kelompok perhutanan sosial, dan masyarakat setempat dalam mengembangkan kopi agroforestri sebagai produk unggulan berbasis konservasi dan ekonomi berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk menerapkan model serupa dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang lestari dan produktif.

Kunjungan Menteri Kehutanan ke Kebun Koleksi Bambu dan Rempah: Saksikan Momen Pentingnya!

Kami sangat berterima kasih atas kunjungan Menteri Kehutanan yang baru saja berlangsung di Kebun Koleksi Bambu dan Rempah. Kunjungan ini menjadi momen berharga bagi kami untuk memperkenalkan potensi konservasi, edukasi, dan pengembangan ekonomi berbasis komunitas melalui koleksi tanaman bambu dan rempah kami.

Untuk melihat rangkaian kegiatan selama kunjungan tersebut, kami telah mengunggah video dan dokumentasi menarik yang dapat Anda akses melalui:
🔗 Instagram: https://www.instagram.com/reel/DJfme3tTL7U/?igsh=MXd1em5iZWc0d2VvYg==
🔗 Website: https://www.antaranews.com/berita/4826885/menhut-dorong-pengembangan-kopi-melalui-sekolah-lapangan-di-garut?page=all

Jangan lewatkan kesempatan untuk melihat langsung bagaimana langkah-langkah kami dalam melestarikan kekayaan hayati sekaligus mendukung pemberdayaan masyarakat sekitar.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »