Satu Sosok Marhaen 2026

Tani mah bagi nu bodoh, belajar teras supados hasil,”
ungkap Mang Atep, petani penggarap (umur 54 tahun), Desa Mandalasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut.

Mang Atep adalah lelaki 54 tahun dan istrinya 47 tahun, menjawab sapaan saya di pagi sekitar pukul 08.00. “Pak Oji yah?”
Langsung saya memasuki percakapan mengenai apa yang ia sedang kerjakan.
“Sedang bikin galengan, ya Mang?”
Ia berhenti memacul dan fokus bercakap-cakap ringan dengan saya.
Sawah yang digarap itu seluas 100 tumbak (1.400 m2), milik orang lain. Sawah 100 tumbak itu, panen terakhir berhasil 900 kg, lantaran ada gangguan tikus.
Biaya yang ia keluarkan selain tenaga kerjanya sendiri dan istri sekitar 1,5 juta rupiah (biaya mesin, tanam, rambet dan obat).
Hasil itu dibagi dua dengan pemilik setelah dikurangi biaya yang dikeluarkan.
Mang Atep cerita punya garapan sawah di lokasi lain 170 tumbak, dan sewa 100 tumbak lokasi lain buat palawija. ‎
Mang Atep tamat SMP umur 14 tahun dan tidak lanjut sekolahnya. Langsung pergi ke Tanjung Priok di Jakarta tahun 1988 kerja galian pipa, hingga setahun. Setelah itu, berdagang tahu, akua, dll., lalu pindah dagang batagor di Pondok Bambu. Hingga tahun 1990 ia masuk terminal Cililitan Jakarta, yang sudah menjadi wilayah kerja banyak orang Garut, berdagang dari bus satu ke bus lain selama 12 tahun.
Tahun 2005, Mang Atep kembali ke kampung karena diminta mertua mengajar ngaji anak-anak 25 orang.
Saat itulah ia hidup bertani sawah dengan pola bagi-hasil, dan bertani palawija pada tanah sewaan.
Mang Atep dan istrinya sudah 20 tahun bertani, hidupnya berlanjut dengan dua anak, yang pertama sudah jadi mahasiswa Universitas Siliwangi, dan yang kedua masih di kelas 4 Sekolah Dasar.
Mang Atep inilah Marhaen di 2026, alumni lumpen proletariat di sektor informal kota, kembali jadi petani penggarap di desa, dan putri pertamanya mengidam-idamkan diri jadi pegawai kantoran.
Hidupnya diabdikan untuk menghidupi keluarganya sehari-hari, dan bisa membiayai kedua anaknya sekolah.
Kecakapan, ketekunan, dan kesendirian Mang Atep ini, dan para Marhaen lainnya, menanti untuk diajak bercakap-cakap, yang bisa jadi dapat memanggil-manggil para pengusung Kredo Agraria (Agrarian Creed) berteman dan berjalan bersamanya.


*) Noer Fauzi Rachman, 1 Januari 2026

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »